Varies Reza Malik: Bupati Sampang “Takok Banner”, Dikritik Soal Jalan Langsung Main Copot

Sampang – Fajar Nusantara News, Sindiran pedas dilontarkan Aktivis Muda Banyuates, Varies Reza Malik, menyikapi pencopotan spanduk berisi kritik terhadap Pemerintah Kabupaten Sampang yang dilakukan oleh Satpol PP.

Varies bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai gambaran bahwa Bupati Sampang “takok banner” alias takut terhadap spanduk kritik masyarakat.

“Bupati takok banner, bupati takut sama banner. Baru dikritik soal jalan rusak langsung panik, langsung suruh Satpol PP copot spanduk rakyat,” ujar Varies Reza Malik, Rabu (22/10/2026).

Menurut Varies, pencopotan spanduk tersebut justru berpotensi menimbulkan pertanyaan lebih besar di tengah masyarakat. Sebab, menurut dia, kritik yang disampaikan melalui spanduk semestinya dijawab dengan tindakan nyata pemerintah, terutama terkait persoalan infrastruktur jalan yang dikeluhkan warga.

“Spanduk itu tulisannya jelas, “PETAOH TODUSSS, BUPATI GAGAL BANGUN JALAN RAKYAT.” Itu bentuk kritik masyarakat terhadap kondisi jalan yang mereka rasakan. Kalau kritiknya dianggap salah, jawab dengan data dan pembangunan, bukan sekadar mencopot spanduk,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi masyarakat yang masih melakukan perbaikan jalan secara swadaya. Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah, bukan justru memunculkan tindakan terhadap media penyampaian kritik masyarakat.

“Rakyat bayar PBB-P2, tetapi masih ada jalan yang rusak dan bahkan harus diperbaiki secara swadaya. Pertanyaannya sederhana, kenapa yang dicopot spanduknya, bukan jalan rusaknya yang diperbaiki?” cecar Varies.

Varies menilai pemerintah daerah seharusnya memiliki ruang yang lebih terbuka terhadap kritik publik. Menurut dia, kritik merupakan bagian dari kontrol sosial dan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengevaluasi program pembangunan.

“Kalau banner saja ditakuti, bagaimana mau mendengarkan keluhan rakyat yang lebih besar? Jangan sampai masyarakat kemudian merasa bahwa kritik dianggap sebagai ancaman,” ujarnya.

Ia juga menyindir pola komunikasi pemerintah dengan masyarakat yang dinilainya masih perlu diperkuat.

“Kalau banner saja ditakuti, apalagi mau live di TikTok untuk mendengarkan langsung keluhan rakyat seperti yang dilakukan sejumlah kepala daerah di tempat lain. Pemimpin itu seharusnya hadir mendengar, bukan hanya hadir ketika semuanya sudah terlihat baik,” tambahnya.

Varies meminta Pemkab Sampang tidak menjadikan pencopotan spanduk sebagai jawaban atas kritik masyarakat. Ia mendesak pemerintah lebih fokus menyelesaikan persoalan jalan yang menjadi keluhan warga.

“Jangan takok banner. Jawab kritik dengan aspal, dengan pembangunan jalan, bukan dengan mobil patroli Satpol PP. Rakyat tidak menunggu spanduk dicopot. Rakyat menunggu jalan diperbaiki dan janji pembangunan dibuktikan,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak Pemerintah Kabupaten Sampang maupun Satpol PP mengenai alasan pencopotan spanduk tersebut. Konfirmasi dari pihak terkait penting dilakukan agar pemberitaan berimbang dan publik mengetahui dasar tindakan pencopotan tersebut. (Ir)